• Home
  • Reportase
  • The Need To Produce Global Level Medical Specialist: Experience From Thailand

The Need To Produce Global Level Medical Specialist: Experience From Thailand

Prof. Dr. Tippawan Liabsuetrakul, MD, , PhD dari unit Epidemiology, Faculty of Medicine, Prince of Songkla University, Thailand menjadi narasumber pada 13th Post Graduate Forum on Health System & Policy di Yogyakrta, 19-20 Juli. Prof. Tippawan menyampaikan materi “The need to produce global level medical specialist: Experience from Thailand”. Pertumbuhan rumah sakit pemerintah dan swasta di Thailand mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, jumlah RS pemerintah lebih banyak dari pada RS swasta. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan tenaga medis, yaitu dokter. Data konsil kedokteran Thailand menyebutkan bahwa ada 58.490 dokter terdiri dari 32.093 dokter laki – laki dan 26.397 dokter perempuan. Sedangkan jumlah spesialis sebanyak 35.643. Tenaga dokter tersebar di Bangkok, bagain Utara, Tengah, Timur Laut dan Selatan Thailand.

Thailand memiliki 10 fakultas kedokteran yang diakui, tersebar di 40 rumah sakit. Indonesia memiliki fakultas kedokteran sekitar 7 kali lipat jumlah fakultas kedokteran Thailand. Namun, Indonesia masih mengalami ketimpangan jumlah dokter di pedesaan. Thailand memilki solusi untuk menempatkan dokter di daerah pedesaan. Kementrian Kesehatan Thailand bekerjasama dengan Consortium of Thai Medical Schools (COTMES) melalui proyek One District One Doctor Project (ODOD) sejak 2005, lulusan diharapkan berkerja selama 12 tahun. Sebelumnya ada proyek lainnya yaitu Collaborative Project to Increase Rural Doctors (CPIRD) sejak 1994.

Dokter asing juga bisa bekerja di Thailand, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu: pengakuan gelar oleh konsil kedokteran Thailand, ada lisensi yang valid dari negara asal, telah lulus semua 3 bagian dari pemeriksaan perizinan yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Kompetensi Medis dan Akreditasi, menjadi anggota Dewan Medis Thailand, tidak berusia kurang dari 20 tahun, dan tidak memiliki rekam jejak buruk/ masuk penjara/ gangguan mental atau penyakit yang ditentukan dalam peraturan konsil kedokteran Thailand.

Mutu tenaga dokter dipertahankan menggunakan Global standards for quality improvement of medical education yang dikeluarkan oleh World Federation for Medical Education (WFME). Pembelajaran berdasarkan pada evidence based medicine, didukung oleh Cochrane Thailand. Indonesia juga menggunakan acuan World Federation Medical Association, dalam bentuk Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI), PIDI juga merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.

 

Reporter: Eva Tirtabayu Hasri (PKMK FK – KMK UGM)

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.