• Home
  • Reportase
  • Collaboration of local medical specialist and foreign medical specialist in actual services: experience from Malaysia

Collaboration of local medical specialist and foreign medical specialist in actual services: experience from Malaysia

panel-3-1

Sesi Panel Ahli di hari pertama PostGraduate Forum (PGF) ke-13 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (19/07) bertempat di auditorium FK-KMK UGM menghadirkan tiga pembicara ahli, yaitu Barbara McPake (University of Melbourne), Tippawan Liabsuetrakul (Songkla University), dan Syed Mohamed Aljunid Syed Junid (Kuwait University/National University of Malaysia). Sesi panel ini mengangkat tema “Medical Specialist Education in Global Asia Countries” yang menggali pengalaman dan isu mengenai pendidikan kedokteran spesialistik berkaca pada observasi dan analisis para ahli tersebut. Sesi ini dimoderatori oleh Yodi Mahendradhata, PhD.

Panel ketiga yang diisi oleh Syed Mohamed Aljunid mengangkat tema “Collaboration of Local Medical Specialist and Foreign Medical Specialist in Actual Services: Experience from Malaysia”. Di panel ini, Aljunid mengemukakan kurangnya jumlah dokter spesialis di Malaysia dan tidak meratanya persebaran para dokter spesialis tersebut. Aljunid menyampaikan beberapa solusi yang dapat diambil oleh pemerintah Malaysia untuk mengatasi masalah tersebut, antara lain dengan pengembangan program pendidikan lokal untuk dokter, mempekerjakan ahli dari luar negeri sebagai trainer for trainers, kolaborasi dengan pusat -pusat internasional untuk melatih dokter ahli di tingkat lokal, dan pemberian insentif untuk dokter spesialis untuk memberikan pelayanan di sektor publik.

panel-3-2

Salah satu inovasi yang dikemukakan oleh Aljunid adalah penyusunanParallel Pathway untuk menghubungkan pelatihan dokter spesialis di Malaysia dengan pelatihan dokter spesialis di luar negeri. Tujuannya tidak lain -untuk menambah jumlah dokter pakar di Malaysia yang dapat mengatasi permasalahan kurangnya SDM kesehatan di Malaysia.

Pembahas pada sesi diskusi, Eka Ginanjar, mengemukakan bahwa Indonesia memiliki masalah yang serupa dengan Malaysia tetapi lebih kompleks, dengan 17.000 pulau dan ratusan etnis. Dokter spesialis pada umumnya tidak mau ditempatkan di daerah karena mengkhawatirkan keluarganya tidak dapat memperoleh akses pendidikan, hiburan, dan layanan publik yang baik. Di samping itu, dokter spesialis membutuhkan fasilitas dengan peralatan yang relatif lebih maju untuk dapat bekerja dengan baik.

Merespon bahasan dari Eka Ginanjar, Barbara McPake berpendapat bahwa menempatkan dokter spesialis di setiap pulau sangat tidak realistik. Australia, misalnya, mengatasi hal tersebut dengan membuat program “Royal Flying Doctor Service” untuk menyediakan layanan kedaruratan dan dasar di area terpencil di Australia. Kuncinya, menurut Barbara, adalah menyelesaikannya dengan perspektif sistem kesehatan dan menyediakan landasan legal yang baik untuk program tersebut.

Reporter: Insan Rekso Adi (PKMK FK – KMK UGM)

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.