Quality of Service and Health Promotion

13th Post Graduate Forum on Health System & Policy Medical Specialist within the Health System in Asia: A Perspective on Production and Utilization yang diselenggarakan di Yogyakarta menggelar sesi presentasi oral pada 19 Juli 2019, mengangkat topik mutu. Kegiatan dilakukan di gedung penelitian dan pengembangan  FK – KMK UGM, diikuti oleh negara Cina, Thailand, Indonesia, dan Malaysia. 

quality-1

Reviewers Presentasi Oral

 quality-2

Presentan dari Cina

Ada 7 presentan, membicarakan tentang mutu pada level pelayanan kesehatan dan kebijakan. Presentan dari Universiti Kebangsaan Malaysia menyampaikan tentang kualitas hidup terkait kesehatan atau kata lainnya Health Related Quality of Life (HRQoL) pada penderita kanker payudara dan kanker rektal. Penelitian Ramdzan, menemukan bahwa penderita kanker payudara dan rektal memiliki HRQoL buruk, hal ini dikaitkan dengan keparahan kondisi penyakit dan status sosial ekonomi yang rendah.

Hal serupa tentang quality of life juga disampaikan oleh Suyanto, mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan S3 di Thailand. Suyanto membandingkan quality of life pada penderita Tuberculosis yang melakukan pengobatan pada 2015 saat kabut asap dan setelah kabut asap 2016 di Pekanbaru. Hasilnya bahwa pasien TB yang terpapar kabut asap pada 2015 memiliki kualitas hidup yang lebih rendah pada tahun berikutnya. Hal ini dikaitkan dengan efek merokok dan usia, bukan karena Partikulat (PM10).

Penelitian lainnya dari Malaysia. Muhammad Alimin menceritakan tentang sistematic review untuk mencari instrumen  menilai Patient Centred Care (PCC) di primary care, menggunakan basis data yang dicari oleh PubMed, EBSCOhost, dan Cochrane. Hanya ada 6 artikel yang sesuai, semuanya berasal dari negara maju. Ditemukan banyak dimensi menilai PCC. Penyusunan instrumen PCC dapat dilakukan dengan melibatkan pasien dalam mengembangkan instrumen dan mengadopsi berbagai metode.

Myo Minn Oo dari Thailand menceritakan tentang Direct Acting Antiviral (DAA). DAA adalah obat bagi pederita Hepatitis C. Obat ini memiliki masa terapi 12 hingga 24 minggu. Penelitian Myo menunjukkan bahwa banyak pengobatan yang tidak berhasil sehingga perlu dilakukan penelitian kualitatif untuk mengetahui alasan pasien tidak kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Yijing Xie dari Cina melakukan penelitian untuk mengevaluasi kualitas pencegahan infeksi pernafasan di Inner Mongolia menggunakan pendekatan standardized patient di Hohhot, Baotou and Erdos. Standardized Patient (SP) adalah orang sehat yang dilatih untuk “secara konsisten” mensimulasikan riwayat medis, gejala fisik, dan karakteristik emosional pasien yang sebenarnya. SP yang dilatih secara acak mengunjungi klinik di tiga rumah sakit yang diteliti dengan gejala yang berkaitan dengan flu dan TBC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Klinik di kota Erdos memiliki skor jauh lebih rendah untuk kinerja rumah sakit dibandingkan dengan kinerja di kota-kota lain. Praktek penyediaan sumber daya untuk kebersihan tangan dan pemberian masker jaringan/bedah atas permintaan adalah yang terburuk di Erdos, sementara enam perilaku lainnya tidak berbeda dari kota-kota lain.  Penampilan dan perilaku dokter di rumah sakit tentang triase infeksi saluran pernapasan dan batuk etiket dalam pengaturan layanan kesehatan berbeda di antara klinik di tiga kota Inner Mongolia.

Mohammad Husni Jamal menceritakan tentang  ketidakpuasan dokter di PEKA B40. Program ini digunakan untuk Preventive & Health Promotion, namun dokter tidak puas karena berbagai alasan, salah satunya remunerasi rendah. hasil penelitian diakui bahwa struktur PEKA B40 saat ini memiliki banyak kekurangan.

Kasra K dari universitas Andalas  memaparkan bahwa kualitas Rekam Medis Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit kelas B lebih baik setelah implementasi INA CBGS di provinsi Sumatera Barat. Pasien yang mempunyai Length of Stay ( LOS) 1-4 lebih baik kualitasnya daripada yang LOS 5 – 9 hari dan lebih dari 10 hari. Rekam medis pasien rawat inap laki – laki lebih baik dari pada perempuan. Rekam medis pasien rawat inap memilki kualitas rendah dapat disebabkan oleh kurangnya paparan coders ke sistem Casemix, waktu yang tidak memadai untuk mengisi RM sepenuhnya dan kurangnya tenaga kerja. Diperlukan pelatihan komprehensif tentang INA-CBG kepada pembuat kode dan petugas kesehatan lainnya.

Penelitian yang telah dilakukan di Indonesia, Cina, Malaysia dan Thailand diharapkan dapat menjadi evidence based dalam menerapkan program ataupun memberikan penanganan pada pasien dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Reporter:

Eva Tirtabayu Hasri (PKMK FK – KMK UGM)

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.